Kids Then Vs Kids Now

 

Beberapa waktu terakhir ini,  kalimat ‘Kids Zaman Now’ sangat akrab di telinga warganet. Makna sebenarnya sih biasa aja ya ‘anak jaman sekarang’ yang dari dulu juga sudah sering diucapkan orang-orang. Setelah membaca artikel mak Anindita ini,  saya langsung ingin merespon lewat tulisan juga.

Makna istilah ‘Kids Zaman Now’ yang kekinian tersebut sekarang cenderung dikaitkan dengan tingkah laku anak-anak yang ga sopan, liar,  atau melakukan tindakan yang bikin kita orang dewasa pada geleng-geleng kepala. Bahkan ada juga stilah yang lebih mengerucut, yaitu. ‘Generasi micin’ *ada-ada saja ya istilahnya,  hihi. Kasihan si micin jadi dibawa-bawa 😀

Kalau mau dibandingkan kelakuan kids jaman dulu dan sekarang,  tentunya sangat berbeda dan mau ga mau akan berubah. Apalagi perkembangan teknologi yang makin canggih, ga hanya berjalan di tempat. Kalau ga ngikutin arus perkembangan,  ntar malah ketinggalan jaman pula kan? Yang ada si anak juga jadi ga maju-maju dalam berbagai bidang.

Perubahan sikap anak-anak beda zaman yang ingin saya bahas adalah perilaku yang cukup membuat saya tercengang bahkan syok. Dan sebagian besar tingkah mereka justru tersebar dengan cepat melalui media sosial yang mungkin hampir semua anak (umur sekolah dasar) memiliki akunnya.

Gadget

Ini sudah jelas ya,  pasti akan terdapat perubahan besar dalam hal teknologi termasuk gadget. Jaman then,  kita yang waktu SD mainannya petak umpet atau lompat karet,  sekarang tergantikan dengan game yang terinstal pada gadget. Ga ada yang salah sih kalau anak sekarang sudah pegang gadget,  tapi yang terlihat kebanyakan adalah kecanduan pada gadget itu sendiri.

Di kampung Bapak saya yang bisa dibilang jauh banget dari kota, anak-anak SD bahkan balita mainannya hp semua. Sampai ada lho seorang anak di sana yang mengalami gangguan pada matanya karena terlalu sering terpapar cahaya smartphone. Tapi yang kaya gini sih bukan bukan sepenuhnya salah si anak,  lebih ke pengaruh didikan orang tua kali ya. Ortu jaman now,  hihi. Anak rewel dikit,  disodorkanlah gadget. Dan ajaibnya,  si anak emang beneran diam (terbukti pada anakku,  hihi) Sayangnya lama-kelamaan bisa jadi candu. Padahal masih banyak banget mainan edukasi  non gadget yang dijual di pasaran.

Perilaku bermedia sosial

Seperti yang saya singgung di atas, kids jaman now yang memiliki smartphone plus quota internet, hampir semua memiliki akun media sosial. Minimal facebook lah yaa untuk bisa eksis lewat foto atau curhat lewat status. Kita mah dulu kalau mau curhat,  nulisnya diam-diam di buku diary trus  digembok pula biar ga ada yang baca,  hihi

Pernah sekali saya nge-stalk hestek tentang slime atau squishy di Instagram, random aja buka salah satu profil anak SD. Iseng baca komentar di salah satu postingannya, lho kok ada yang berantem hanya karena berbeda pendapat soal bahan dasar membuat slime *haddeh.

Keisengan saya berlanjut dengan membuka profil salah satu komentator yang berantem tadi. Saya langsung Istigfar sesaat setelah mendapati beberapa foto ga senonoh diantara foto slime,  artis cowok korea,  dan foto teman-temannya di dalam kelas dengan menggunakan seragam merah putih. Memang sih,  banyak banget orang dewasa yang suka membuat akun palsu demi mendapat banyak follower. Tapi saya yakin yang saya stalk tempo hari itu adalah akun asli milik anak SD,  huhu.

Mainan anak dulu vs anak sekarang

Ga Cuma soal postigan yang membuat saya geleng-geleng kepala. Pernah juga di IG ada akun lucu-lucuan yang memposting video seorang Bapak sedang kebingungan di depan eskalator. Si Bapak terlihat menaiki eskalator turun. Alih-alih mendapati komentar simpati, kebanyakan komentar malah mengejek, menertawakan,  bahkan mengumpat.  ‘Bapak siapa tuh?  Kampungan!! ‘, salah satu komentar netizen (sepertinya remaja) sambil mensyen beberapa akun temannya. Miris deh bacanya.

Mengungkapkan perasaan ke lawan jenis


Pernah ga sih merasa tertarik sama lawan jenis pas masih SD?  Saya pernah. Waktu itu kelas 4 SD tahun 1994 (ketahuan tua deh :D) suka sama teman kelas sebelah dan sampai sekarang saya masih ingat namanya,  haha. Terus,  saya ungkapkan perasaan ke dia gitu?  Big No lahh.. Boro-boro 😀

Jaman sekarang, sepertinya sudah menjadi hal yang wajar jika kita suka sama seseorang trus diungkapin dan kudu harus mesti direkam untuk kemudian dishare ke medsos. Para bocah seolah menjadi dewasa sebelum waktunya, baik dari segi penampilan maupun tingkah laku.

Ilustrasi (lolfunnypicture.com)

Banyak banget tuh video ‘pernyataan cinta’ ke lawan jenis yang diunggah ke sosmed.  Kalau yang anak SMA sih saya ga terlalu gimana-gimana ya. Tapi ini anak SD lho,  masih pakai seragam putih merah,  nembak cewek sambil berlutut dan ngasih bunga di lapangan sekolah. Teman-temannya yang lain pada kasih semangat sembari merekam menggunakan ponsel mereka.

Saya juga cukup syok saat mendengar cerita sahabat saya tentang tingkah anaknya yang masih TK. Anak 5 tahun iti tiba-tiba mendatangi Ibunya (sahabat saya)  lalu berkata “Ibu,  cantik banget deh. Mau ga jadi pacarku?” Sahabat saya tentunya kaget,  kemudian bertanya ke anaknya dari mana dia mendengar kalimat seperti itu. Anaknya hanya menjawab kalau temannya di sekolah selalu berkata seperti itu kepada teman ceweknya. Dan bukan hanya satu orang saja yang begitu. Ckckck.

Apa yang salah pada Kids Zaman Now?

Ga ada yang salah sama anak-anak! Saya meyakini tingkah tersebut merupakan akibat dari didikan dari dalam rumah,  dan juga lingkungan. Kedua faktor itu harus selalu berbanding lurus. Okelah didikannya udah pas banget,  tapi kan sebagi ortu kita juga ga bisa awasi anak kita 24jam. Di situlah faktor lingkungan berperan. Mulai dari tontonan ga jelas dari tivi maupun internet,  sampai perilaku orang sekitar yang gampang banget ditiru anak kecil.

Saya hanya berharap dan berdoa agar anak-anak saya bisa menjalani masa kecil dengan bahagia sesuai umur mereka. Semoga anak saya dikelilingi teman-teman yang dididik dengan baik oleh orang dewasa di sekitarnya. Aamiin 🙂

Please follow and like us:

11 Replies to “Kids Then Vs Kids Now”

  1. omg Alfu nge-stalk anak SD wkwkwkw *kidding :). Saya kurang setuju sama orang tua yang membiarkan anak-anaknya main instagram sedari kecil, menurut saya mereka belum bisa memilah apa yang baik dan buruk untuk diunggah di sosmed. Apalagi cerita akun anak SD yang alfu liat, apakai berantem dan ejek-ejekan segala. Qo ya miris banget jadinya.

    1. Iya teh.. Stalking akun anak SD jadi geleng2 kepala beneraan..haha.. Setuju teh, di sosmed banyak banget beredar konten yang semestinya ga pantas untuk dilihat.. Walaupun sudah ada yang pake filter, tetap saja pada penasaran pengen lihat.. Kita yg dewasa mungkin bisa bijak menyikapinya. Tapi kalau anak2 yang lihat, gimana.. Huhu

  2. Memang ga ada yang salah dengan anak-anak zaman sekarang mak, kita pun juga tidak bisa menyalahkan teknologi. Tugas besar buat kita bersama ini, bagaimana menyikapi perilaku kids zaman now… ^^

  3. Kalau saya sendiri, dengan kemajuan zaman saat ini, susah rasanya untuk tidak membiarkan mereka ikut aktiv dalam kemajuan tersebut.
    dan rasanya juga tidak adil jika kita melarang mereka sementara kita sendiri masih jadi tauladan yang terus memakai teknologi tersebut.
    Jadi, selama teknologi pendukung semacam gadget itu saya tidak melarang mereka, tapi tetap dalam pengawasan..

  4. It takes a village to raise a child. Jadi meski mati mation orang tua jagain, kalau lingkungan sekitar gak mendukung juga pasti hasilnya gak maksimal ya mak. Makanya kalau aku deketin orang orang yang bersinggungan juga sama anak anak kaya tetangga, ibu ibu temen sekolah anak, menyamakan visi dan misi demi kepentingan bersama #eaaa

    1. Cucookk mak.. Lha temen aku yang pola asuh di keluraganya cukup moderat dan disiplin bgt menurut saya, kebablasan juga setelah lihat akun IG anaknya yg ngeboom like dan komen foto2 aneh bin ga jelas.. Usaha harus tetep diiringi doa ya mak..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *