Kunjungan ke Dusun Bambu, Lembang

Awal Januari 2016, saya kembali berkunjung ke kota kelahiran Panda( paksuami), Bandung. Kali ini dengan formasi lengkap: saya, Panda, dan (my not-so baby) Auf πŸ˜…Selain mengunjungi keluarga Panda yang memang jarang kami temui, tentunya Bandung terlalu unyu untuk tidak di-explore baik sebagai tempat wisata maupun sebagai tempat kuliner yang enak-enak banget dan antimainstream. Kalau kunjungan pertama ke Bandung saya lebih condong menjelajah ke toko craft, kali ini mau coba tempat wisata keluarga yang bisa dibilang sedang hits di Bandung. Salah satunya adalah Dusun Bambu Family Leisure Park.

Sebelumnya, saya tanya-tanya dulu sama keluarga dan tetangga sekitar tempat wisata mana yang cocok dikunjungi,  kebanyakan dari mereka jawabnya Kampung Gajah dan Kawah Putih. Ya memang sih kedua tempat itu termashyur banget di Bandung sebagai tujuan wisata saat liburan tiba. Tapi karena kita maunya yang sedikit beda, akhirnya kita coba aja Dusun Bambu yang kebanyakan orang Bandung malah belum tahu. Dalam perjalanan menggunakan GPS (Gunakan Penduduk Setempat) pun, banyak warga Lembang yang bingung saat kita menyebut Dusun Bambu πŸ˜…. Thanks to Waze, aplikasi penunjuk arah yang selalu menjadi andalan kita tiap keluar dari rumah, hehe. Jangankan ke tempat yang belum pernah kita datangi, ke rumah tantenya Panda aja kadang kita masih nyasar kalau ga pake Waze πŸ˜….
pintu gerbang Dusun Bambu ,foto dulu kita
Di pintu gerbang utama, kita  mengeluarkan uang 5 ribu rupiah untuk mendapatkan karcis parikir motor. Mobil dikenakan biaya 10 ribu per mobil dan  parkirannya agak mendaki ke atas ya, setelah itu kita akan mendapati loket untuk membeli karcis masuk ke area utama. HTM 10 ribu per orang saat weekdays. Auf masih dibawah 2 tahun saat itu jadi masih gratis. Nah, ternyata dari loket menuju area utama itu lumayan jauh lho. Tapi tenang, ada mobil angkutan yang siap bolak balik mengantar pengunjung kok. Namanya mobil Wara-Wiri karena tugasnya ya memang warawiri menjemput dan mengantar pengunjung,hehe. kami memilih jalan kaki saja ke atas sekalian olah raga foto-foto. Ternyata memang lebih seru jalan kaki, kita lewatin sawah dan saung-saung sambil menghirup udara segar.

Auf juga menikmati jalan kaki kami ini

karena pengunjung lain lebih memilih naik wara-wiri, jalanan jaadi sepi dan yes! kita menguasai spot foto sepanjang jalan

never ending selfie
Ada papan penunjuk arah jadi jangan takut nyasar
Ini dia si Wara-wiri. Penuh warna warni juga ya
Dalam kawasan Dusun bambu ini terdapat beberpa tempat makan atau resto. Ada Burangrang Cafe yang modern, Saung Purbasari yang Sunda banget dan harus menggunakan sampan kalau mau makan di sana, Lutung Kasarung yang akan memberikan sensasi berbeda seolah-olah kita makan di dalam sangkar burung, dan ada juga pasar berkonsep tradisional yang menjual berbagai makanan hingga souvenir, namanya Pasar Khatulistiwa. Di pasar ini transaksinya tidak menggunakan uang tunai ya, jadi harus ditukar dulu dengan voucher dengan nilai nominal yang sama. Di sini saya mengalami keribetan yang cukup lumayan karena ngantrinya panjang trus kadang harus bolak balik ke loket penukaran karena uang yang yang kita tukar ternyata masih kurang sementara kita jajannya banyak, hehe. Voucher yang masih tersisa tidak bisa diuangkan kembali, jadi tipsnya adalah survey harga dulu apa aja yang mau dibeli trus ngantri deh di loket untuk tukar voucher seharga uang yang akan dikeluarkan.

Pasar Khatulistiwa, untuk makan atau beli oleh-oleh boleh mampir ke sini

uang-uangan a.k.a Voucher
 
Burangrang cafe, mumpung sepi mari kita selfi
Pardon my selfeiness

Burangrang cafe ini memiliki tempat makan Indoor dan outdoor. Kami memilih yang outdoor saja karena mengincar gazebo yang ada di luar. Gazebonya terbuat dari kayu dan bernuansa rustic, kita bisa santai menikmati makanan dan suasana yang oke banget. Oh iya, pas masuk di cafe ini Mba resepsionisnya ngasih info kalau hari itu hanya berlaku sistem All you can eat dengan harga 150K per orang. Mungkin karena hari kerja dan kafe nya ga ramai pengunjung ya. Gagal deh rencana kita yang cuma mau pesan minuman dan snack doang..haha, ketahuan. Eh tapi, menurutku 300K (berdua sama panda) itu lebih dari sepadan lho dengan apa yang kita dapatkan. Makan sepuasnya sambil leyeh-leyeh di gazebo dan disuguhkan pemandangan Saung Purbasari yang berjejer rapi dan cantik kaya saya.

indoor

150k/ orang. Sudah bisa makan apa saja mulai dari makanan pembuka, makanan berat  sampai hidangan penutup. Makan sepuasnya deh pokonya

Bos Auf gaya

Panda sibuk internetan

view langsung dari gazebo kita nih karena memang cafe Burangrang letaknya pas di depan Saung Purbasari

Naik Sampan sangkuring, melihat lebih dekat saung Purbasari. kalau ga salah ingat sih karcisnya 25rb per sampan

Lutung Kasarung, dalamnya sih kaya tempat makan biasa aja ya tapi sensainya bakalan beda deh soalnya kita kaya dikurung  gitu sama sangkar burung raksasa. kapasitasnya bisa smpai 10 orang, sayang kita ga bisa masuk foto-foto. Kudu sewa tempatnya dulu 100K di luar makanan ya, hihi
Untuk wahana permainan di sini banyak juga lho. Ada Kampung Ulin yang menyediakan permaianan seperti arena panahan, paintball, becak mini, rabbit feeding, kebun stroberi mini, dll. Di sini juga bayar karcisnya menggunkaan voucher seperti pada pasar Khatulistiwa. Tapi Kampung Ulin punya loket sendiri kok. Saya dong karena ga tanya-tanya dulu, akhirnya kembali ke loket Pasar Khatulistiwa untuk tukar voucher. Padahal jaraknya lumayan jauh, sementara loket penukaran terpampang nyata di depan arena panahan. Cuma saat itu ga terlalu banyak yang antri dan loketnya gabung sama yg jual makanan jadi ga terlalu kelihatan gitu deh sama saya oke, ini hanya pembelaan diri

Selain kampung ulin, ada juga Taman Arimbi, taman ini penuh dengan bunga-bunga cantik, trus ada kereta api mini lho yang bisa membawa kita keliling taman. Sayangnya ga sempat foto πŸ™ Kemudian ada Bamboo Playground. Nah, ini yang pertama kali bikin saya jatuh cinta dan memutuskan harus pergi ke dusun Bambu .Dulu saya lihat liputannya di salah satu berita TV swasta, suasananya asri banget. Sayang sungguh sayang, pas beneran bisa ke sana eh malah ga dapat Bamboo playgroundnya. Salah saya dari awal karena ga pelajari dulu map panduan wisata lokasi wahana yang ada di dusun bambu ini. Padahal banyak tersebar kok waktu saya googling. Dan ternyata lokasi bamboo playground ini berdekatan dengan Rabbit Wonderland yang sempat kami singgahi untuk foto-foto.

Arena panahan di kawasan Kampung Ulin. 20K sudah dapat anak panah 10 buah
Sementara Panda main panahan, anaknya ngasih makan kelinci
Rabbit Wonderland

Selain wahana permainan dan resto, Dusun Bambu juga memiliki beberpa penginapan yaitu Kampung Layung dan Sayang Heulang (Eagle Camp).
Gerbang Kampung layung yang kami temui saat jalan kaki menuju area utama
Di depan Kampung Layung
Karena kita ga bisa masuk ke dalam, ini saya tampilkan fotonya. Foto by @Dusun_bambu via Visitlembang.com
Eagle Camp. Foto by @dusun_bambu via visitlembang.com

Untuk biaya penginapan baik Kampung Layung maupun Eagle camp, rate di atas 2 juta per malam. extra bed 250K. tapi harga sepadan banget dengan fasilitas yang ditawarkan. Suatu saat pengen balik lagi ke sini untuk nginap dan ber-glamping ria. Liburan lebaran kemarin sempat nginap juga di Terminal wisata Grafika, Cikole. Ulasan singkatnya sudah saya tulis di sini

Panduan wisataDusun Bambu
Saat pulang dan melewati pintu keluar, karcis masuk kita tadi bisa ditukar dengan sebotol air mineral
Tugu bambu yang terdapat di depan loket
Secara keseluruhan saya puas banget jalan-jalan di ke tempat ini. Perjalanannya juga waktu itu lancar jaya banget ga ada macet-macetnya. Itulah kelebihannya kalau liburan saat weekdays *lho.  Tunggu ulasan saya tentang tempat-tempat keren yang saya kunjungi selama liburan di bandung yaa..
Alamat Dusun Bambu Family Leisure Park
Jl. Kolonel Masturi Km 11, lembang , Bandung barat 
Tlp: (022) 82782019
IG @dusun-bambu

Please follow and like us:

10 Replies to “Kunjungan ke Dusun Bambu, Lembang”

  1. Ohh jadi bapak Panda urang Bandung? Hihihi pantesyan jadi ketularan suka brownies ya. Bandung is one of my favorite cities yg selalu bikin kangen karena makanan dan ada aja tempat yang mendekatkan kita pada alam. Suatu hal yang agak susah di dapatkan di Makassar. *Sigh* jadi kangen Bandung. *Lalu lupa mau komen apa tadi?*

  2. Iya kak..kemarin pas mau balik ke kapalnya di Batam, doi minta saya order brownies fever taro lagi..tapi ga keburu..mintanya sore padahal berangkat ke batamnya malam πŸ˜‚ dia kira ready terus ki brownies ta πŸ˜…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *