missing hubby

Bismillah..

It’s 02:28 AM now,,dan saya sama sekali belum merasa ngantuk. Tak tau kenapa, hampir tiap malam seperti ini. Sudah 2 minggu sejak dia meninggalkanku atas nama tugas. Sebelum2nya sudah sering ditinggal juga sih..hanya saja saat ini saya benar2 sendiri..doing everything all by myself. Jauh dari keluarga, teman dan kampung halaman 🙁

Sekitar sejam lalu, dia nelpon..mengabarkan dirinya hampir sampai di kota tujuan. Suara di tlp tak jernih, itu suara angin dan ombak. Untuk memberi kabar, dia tak harus menunggu sampai kapalx bersandar di dermaga..kapanpun ada sinyal hp, dia akan menelfon.

Sudah 2 tahun. Tapi perasaan senang dan bahagiaku saat ditelpon dia melebihi perasaan senang saat kami bertemu lagi untuk pertama kalix (setelah belasan tahun). Entah kenapa, dan perasaan itu tetap sama setiap kali dia sms atau nelpon setelah 2-3 hari ga ada sinyal hp. 2-3 hari itu adalah saat dimana kami benar2 hilang komunikasi. Waktu yg paling menyiksa.

‘Assalamu’alikum Bun..lg apa niihh,gimana, sehat??’ pertanyaan awal yang rutin dia tanyakan tiap kali menelpon. Suaranya menenangkan sekali, sampai2 saya lupa bagaimana bahagiax sy waktu melihat nama dan nomor yg muncul di layar hpku saat berdering. Kami bertukar cerita tentang yg kami alami selama 3 hari tak berkomunikasi. Dia senang waktu sy cerita kalo hari ini sy ke warung sendiri beli tabung gas dan memasang sendiri regulatorx.

Sudah 2 tahun . Seingatku, saya yg paling banyak mengeluh. Tentang pekerjaannya terutama. Padahal sy sudah tau pekerjaanx jauh2 hari sebelum sy memilihx. Dia selalu membuatku senang. Bahkan saat dia tak sanggup memenuhi keinginanku. Penolakanx pun dilakukan dengan caranya yang romantis.

Sudah 2 tahun. Sebelum 2 tahun itu, dia mungkin bukan orang yg baik bagi beberapa orang, bahkan pernah berlaku jg untukku. Saat ini,dia mungkin tak sempurna di mata orang lain, tp selalu sempurna di mataku. Dia pernah bilang, sangat beruntung memiliki saya, tak tau harus berbuat apa tanpa saya. Ah, dia mencuri kalimat2ku yg sebelumnya akan saya katakan padanya.

Sudah 2 tahun. Rasa marah, sedih, kecewa, dan takut tak akan pernah menandingi perasaan rindu yg tertuju hanya padanya. Tentang cinta, saya lebih suka rindu.

Ya. Sudah 2 tahun kami menikah. Dia suamiku. Teman sekolah, teman hidup. Yang katax terlalu sayang padaku. Bukan tanpa kecewa. Saya sering mengecewakannya malah. Bukan tanpa marah. Malah saya sering membuatnya marah.

Ya. Sudah 2 tahun kami menikah. Dan masih selalu merindukannya.

posted from Bloggeroid

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *